31 December, 2009

Mengenang Bapak GusDur



InnaLillahi wa inna Ilaihi Roji'un.telah berpulang ke RahmatUllah Bpk,KH.Abdurahman Wahid''Gusdur''semoga arwahnya di terima di sisi Allah dan keluarganya di beri ketabahan dan kesabaran amien..



بِسْمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
Mengenang "GusDur''sebagai Bapak dan Pembebas Etnis Tionghoa
Ehm ...hayouh...kabeh akeh seng posting tentang Beliau iya kan???inj menandakan bahwa Beliau menjadi sejarahwan yang patut di acungi jempol,seperti para umat tionghoa loh...belum lagi saya melihat dan membaca bahwa  jelang pemakaman beliau di Jombang,terus tempat apa itu TEBU IRENG???juga dipadati orang-orang yang turut berduka cita....SubhanAllah jan uakeh tenan rek...

Nah kalau yang saya postingkan ini berhubungan dengan boos saya termasuk tioghoa dan boss saya sempat menanyakan'' Thai onna ..CI emcia Ghout tul...yei king chao coulah????''
''dhana tahu ga GusDur telah wafat???tanya boss saya
''oh moyisi siuce ngam-ngam sito khe lah''
''oh baru tahu boss''jawab saya
Lelaki yang akrab dipanggil Gus Dur itu dikenal sebagai tokoh fenomenal di Indonesia. Namun, di antara kisah kontroversi Gus Dur, tak sedikit peran besar yang ditorehkan lelaki peraih sepuluh gelar dokter kehormatan tersebut.
Salah satunya, saat menjabat menjabat Presiden RI pada 1999 - Juli 2001,Gus Dur telah membuat berbagai keputusan menyangkut sejarah bangsa. Keputusannya adalah mencabut PP No 14 Tahun 1967 yang berisi larangan atau pembekuan kegiatan-kegiatan warga Tionghoa.

Dalam dialog "Living in Harmony the Chinese Heritage in Indonesia" yang digelar menyambut Hari Imlek di Jakarta, 30 Januari setahun lalu, Gus Dur meyakini Imlek merupakan perayaan budaya, bukan keagamaan."Imlek itu perayaan tani," kata mantan presiden yang kini menjabat ketua umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut. Gus Dur sendiri mengaku memiliki aliran darah Cina dalam tubuhnya. Darah Cina itu mengalir dari Putri Campa yang menjadi selir Raja Majapahit Brawijaya V yang silsilahnya sampai pada dirinya.

Namun bukan karena alasan itu dirinya mengizinkan perayaan Imlek secara luas ketika menjabat presiden, melainkan demi menjaga pluralitas Indonesia.
Kebebasan yang diraih oleh kalangan Tionghoa itulah yang juga membuat Gus Dur dinobatkan menjadi Bapak Tionghoa, 10 Maret 2004 silam. Di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, kawasan Pechinan Semarang, ketika penobatan dilakukan, Gus Dur pun mengenakan pakaian congosan.

Semoga arwahnya di terima Allah subhanahu wata'ala dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesababaran.amien Allohu Rob Izzati....


related Article:

17 Was Commented to “Mengenang Bapak GusDur”

Post a Comment

Terima kasih atas komentar Anda/Thanxs for Ur Comments/
感谢您的评论 dan please dont SPAM yach...

 

Dhana Arsega/戴安娜 Copyright © 2011 --Edit and Converted by Dhana Arcamo