06 June, 2011

Renungan di Buku Dhana

Segala Puji hanya milik Allah Swt sehingga saya kembali posting (xixixiix nyontek gayamu Non wkwkwkkw)
Dari diri pribadi saya juga demikian karena kekuatan dan kehendakNYa kita bisa melakukan apa saja yang tentunya membawa fadhilah(gitu pesan nona Dhana).

Ngintip sekilas sebuah puisi-puisi karya Non Dhana,luar biasa isinya  isinya lucu hingga perut saya mulas dibuatnya,isinya mengharu hingga tak disadari gua nangis(cengeng ah wkwkkw),isinya penuh inspirasi dan motivasi hingga gua terlelap berimajinasi wkwkwkw.

Awas Dhan menggantikan posisi mba Dhana tidak mudah lho,ngiler dolarnya ae ya om wkwkwkw.Emang mau jadi orang hebat itu kena setrap kena debat wkwkkww.Baiklah ayo kita semua merenung ya,diambil dari sebuah karya yang saya padukan dari nona Dhana dalam Renungan di buku Dhana yang luar biasa.

Saudariku,,, ,yang sedang dalam masa penantiannya. ...

ijinkanlah saya berbagi dalam goresan tulisan ini...
jika menurut teman-teman, baik...
maka ambillah....
dan jika menurut teman-teman, buruk...
maka tinggalkanlah. ...

saudariku... muslimah. ..

wanita muslimah…
laksana bunga yang menawan…
wanita muslimah yang sholehah….
bagaikan sebuah perhiasan yang tiada ternilai harganya….

Begitu indah…
begitu berkilau....
begitu menentramkan. ..
teramat banyak yang ingin meraih bunga tersebut…
Namun tentunya tak sembarang orang berhak meraihnya...
menghirup sarinya….

”Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqoon:74)

hanya yang dia yang benar-benar terpilihlah. ..
yang dapat memetiknya.. .
yang dapat meraih pesonanya...
dengan harga mahal yang teramat suci…
sebuah ikatan amat indah…bernama pernikahan…

karena itu…sebelum saatmu tiba….
sebelum orang terpilih itu datang dan menggandengmu dalam istananya…
janganlah engkau biarkan dirimu layu sebelum masanya…
jangan kau biarkan serigala liar menjadikanmu bahan permainan dalam keisengannya…
jangan kau biarkan kumbang berebutan menghisap madumu…
jangan kau biarkan mereka mengintipmu diam-diam…
dan menikmati pesonamu dalam kesendiriannya….
Jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang rapuh….
atas nama taaruf…atas nama cinta...

Ya…atas nama cinta…

Kau tau saudariku…??

Jika seseorang jatuh cinta….
maka cinta akan membungkus seluruh aliran darahnya…
membekuknya dalam jari-jarinya…
dan menutup semua mata, hati dan pikirannya….
❥ Membuat seseorang lupa akan prinsipnya….
❥ Membuat seseorang lupa akan besarnya fitnah ikhwan-akhwat…
❥ Membuat seseorang lupa akan apa yang benar dan apa yang seharusnya ia hindarkan…
❥ Membuat seseorang itu lupa akan apa yang telah ia pelajari sebelumnya tentang batasan-batasan pergaulan ikhwan akhwat…
❥ Membuat seseorang menyerahkan apapun…supaya orang yang ia cintai…”bahagia” atau ridho terhadap apa yang ia lakukan…
❥ Membuat orang tersebut lupa…
bahwa cinta mereka belum tentu akan bersatu dalam pernikahan….


Ya saudariku…..ukhty fillah…
Jangan sampai cinta menjerumuskanmu dalam lubang yang telah engkau tutup rapat sebelumnya…
Karena itu…
jika engkau mulai menyadari adanya benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam hatimu yang rapuh…

segeralah…
buat sebuah benteng yang tebal dan kokoh…
Tanam rumput beracun disekelilingnya…
Pasang semak berduri di muara-muaranya

Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati.
Cinta yang takkan bertepuk sebelah tangan.
Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya.
Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin...

Cinta begitu dahsyat pengaruhnya…
Berlarilah menjauhinya…
menjauhi orang yang kau cintai….
Buat jarak yang demikian lebar padanya….
jangan kau berikan ia kesempatan untuk menjajaki hatimu...

Biarlah air mata mengalir untuk saat ini…
Karena kelak yang akan kalian temui adalah kebahagiaan…
biarlah sakit ini untuk sementara waktu...
biarlah luka ini mengering dengan berjalannya kehidupan...
Karena cinta tidak lain akan membuat kalian sendiri yang menderita…
Kalian sendiri…

Saudarikuuuu….
tentunya sudah mengerti dan paham...
bagaimana rasanya jika sedang jatuh cinta...
jika dia jauh..kita merasa sakit karena rindu...
jika ia dekat...kita merasa sakit...karena takut kehilangan.. ..
padahal...ia belum halal untukmu...dan mungkin tidak akan pernah menjadi yang halal...

karena itu...jauhilah ia...
jangan kau biarkan dia menanamkan benih-benih cinta di hatimu....
dan kemudian mengusik hatimu...
jangan kau biarkan dia mempermainkanmu dalam kisah yang bernama cinta...
maka...bayangkanlah keadaan ini...
tentang suamimu kelak...

Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:

Rasulullah . bersabda: Tidak seorang pun yang lebih sabar mendengar sesuatu yang menyakitkan selain Allah, karena meskipun Allah disekutukan dan dianggap memiliki anak, tetapi Allah tetap memberikan kesehatan dan rezeki kepada mereka. (Shahih Muslim No.5016)


sahabatku...
Engkau..??
apabila saat ini ternyata suamimu (kelak) sedang memikirkan wanita yang itu bukan engkau..???

sukakah engkau..??
bila ternyata suamimu (kelak) saat ini tengah mengobrol akrab....tertawa riang...becanda. ..
saling menatap...
saling menggoda...
saling mencubit...
saling memandang dengan sangat...
saling menyentuh... ???
dan bahkan lebih dari itu...??

sukakah engkau bila ternyata saat ini suamimu (kelak) sedang jalan bersama gadis lain yang itu bukan engkau...??

sukakah engkau...??
bila saat ini suamimu (kelak) tengah berpikir dan merencanakan pertemuan berikutnya.. .??
tengah disibukkan oleh rencana-rencana. ..apa saja yang akan ia lakukan bersama gadis itu...??


tidak cemburukah engkau temanku..??
bila saat ini suamimu (kelak) sedang makan bareng bersama gadis lain...
atau bahkan segerombolan gadis lain..?
suamimu (kelak) saat ini sedang digoda oleh gadis-gadis. .
suamimu (kelak) sedang ditelepon dengan mesra...
suamimu (kelak) saat ini sedang dicurhatin gadis-gadis. .. yang berkata..."aku tak bisa jika sehari tak mengobrol dengamu..."
tidak cemburukah.. .?? tidak cemburukah.. .?? tidak cemburukaaaaahhhhhhhh......???

tidak terasa bagaimanakah. .???
jika suamimu (kelak) saat ini tengah beradu pandangan....
bercengkrama. .
bercerita tentang masa depannya...
dengan gadis lain yang bukan engkau...???

sukakah engkau kiranya suamimu (kelak) saat ini tidak bisa tidur karena memikirkan gadis tersebut....? ?
menangis untuk gadis tersebut...? ?
dan berkata dengan hati hancur...
"aku sangat mencintamu.. .aku sangat mencintaimu. ..??
tidak patah hatikah engkau...???
sukakakah engkau bila suamimu (kelak ) berkata pada gadis lain..
"tidak ada orang yang lebih aku cintai selain engkau...??"
menyebut gadis tersebut dalam doanya...
memohon pada Allah supaya gadis tersebut menjadi istrinya...

dan ternyata engkaulah yang kelak akan jadi istrinya...
dan bukan gadis tersebut...? ??

jika engkau tidak suka akan hal itu...
jika engkau merasa cemburu....
maka demikian halnya dengan suamimu (kelak)....
dan...Allah jauh lebih cemburu daripada suamimu....
Allah lebih cemburu...saudariku ...
melihat engkau sendirian... namun pikirannmu enggan berpindah dari laki-laki yang telah mengusik hatimu tersebut....


saudariku... .kalian percaya takdir bukan..?
apabila dua orang telah digariskan untuk dapat hidup bersama...
maka... sejauh apapun mereka...
sebanyak apapun rintangan yang menghalangi.. ..
sebesar apapun beda diantara mereka...
sekuat apapun usaha dua orang tersebut untuk menghindarkannya. ..

meski mereka tidak pernah komunikasi sebelumnya.. .
meski mereka sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya.. .
meski mereka tidak pernah saling bertegur sapa...

PASTI tetap saja mereka akan bersatu....
seakan ada magnet yang menarik mereka...
akan ada hal yang datang...untuk menyatukan mereka berdua....
akan ada suatu kejadian...yang membuat mereka saling mendekat...dan akhirnya bersatu...

Berlanjut pada Renungan berikutnya,semoga membawa hikmah amien,dan salam sukses wkwkwkkw.


related Article:

93 Was Commented to “Renungan di Buku Dhana”

Post a Comment

Terima kasih atas komentar Anda/Thanxs for Ur Comments/
感谢您的评论 dan please dont SPAM yach...

 

Dhana Arsega/戴安娜 Copyright © 2011 --Edit and Converted by Dhana Arcamo